Jakarta, 14 Desember 2014
Kali Ciliwung sudah yang terkenal terkenal kotor dan sering banjir ternyata tidak menyurutkan keinginan masyarakat pinggiran Jakarta untuk tetap mendiami daerah ini.
Daerah Bantaran Kali Ciliwung yang berbau kurang sedap dan tidak layak untuk tempat tinggal tetap menjadi tujuan masyarakat luar jakarta menengah kebawah untuk mendiaminya,mereka bahkan menggunakan air yang tidak layak konsumsi ini untuk keperluan sehari - hari seperti mandi dan mencuci, walaupun ada yang memakai sumur pompa.
masyarakat yang mendiami daerah ini ada yang sudah bertahun-tahun karena sulitnya mendapatkan tempat tinggal di Kota Jalarta.
Dibalik keberadaan lingkungan yang memprihatinkan, ada yang menarik dari Masyarkat di bantaran Kali Ciliwung. Roda perekonomian kerakyatan masih bisa berjalan di sini, walaupun dalam keterbatasan tempat tinggal yang sangat sempit. Seperti Warga Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan merupakan kelompok masyarakat yang mendiami bantaran Kali Ciliwung, denyut ekonomi kerakyatan berjalan di wilayah ini. Hal ini dijelaskan oleh Edo, salah seorang warga Bukit Duri yang berprofesi sebagai penjual sapu lidi. "bisnis yang kami jalankan ini bahkan bisa menghidupi ratusan orang". Cetus Edo. Sapu lidi yang didatangkan dari Ciamis, Jawa Barat ini tidak hanya di pasarkan di Sekitar Bukit Duri tetapi juga keseluruh Jakarta. "Disini jauh lebih mudah memasarkan sapu lidi yang kami produksi dibandingkan di daerah asal kami, walaupun ancaman banjir dan penggusuran sering meresahkan kami".tambah Edo!
Keberadaan masyarakat dibantaran Kali Ciliwung ada cerminan dari kurangnya pemerataan pembangunan dari pemerinta pusat maupun provinsi sehingga masyarakat rela tinggal di daerah yang tidak layak sekalipun asalkan mendapatkan penghasilan yang lebih guna kelangsungan denyut kehidupan mereka.



